Antara Buku, Jalan Rusak dan Alam Yang Indah

15 Mar 2013

205dc53a87645961cf25c841359b292a_kkab

Beberapa waktu yang lalu saya berkesempatan untuk mengunjungi Ciamis. Sebuah kabupaten yang berada di tenggara Provinsi Jawa Barat. Tujuan mengunjungi kabupaten yang memiliki motto Mahayuna Ayuna Kadatuan adalah untuk membuka Rumah Baca Indonesia yang ke-5 berlokasi di Pondok Pesantren Kalangsari, Kecamatan Cijulang.

Rumah Baca Indonesia merupakan program yang diinisiasi dan dijalankan oleh Komunitas Kami Anak Bangsa (KKAB) yang bertujuan untuk membantu dan memfasilitasi minat baca, terutama anak-anak di daerah. Saya sendiri, meski tidak berkecimpung langsung, selalu mendukung setiap program KKAB yang nyata-nyata bertujuan membawa masyarakat ke arah yang lebih baik.

Saya melihat sendiri betapa semangat dan antusiasnya warga masyarakat dan anak-anak didik di lingkungan Pondok Pesantren saat buku-buku yang kami bawa dari Jakarta mulai mengisi rak-rak yang sebelumnya kosong. Ada harapan bahwa keberadaan RBI itu bisa meningkatkan minat baca mereka lalu menginspirasi mereka setelah mereka membaca buku-bukunya.

Setelah acara pembukaan RBI, saya mengisi acara talk show yang bertema Buku Membawa Kita Menggapai Cita-cita”. Saya berbagi cerita dan pengalaman pada para peserta yang hampir semuanya murid pondok pesantren dari tingkat TK hingga SMA. Membagi pengalaman masa kecil saya untuk memotivasi para siswa-siswi ponpes untuk gemar membaca dan mengambil manfaat dari yang dibaca. Aktivitas-aktivitas yang saya lakukan pada masa anak-anak selalu dengan semangat bahwa waktu yang dimiliki sedikit dan harus bermanfaat, termasuk aktivitas membaca.

Untuk mewujudkan cita-cita, anak-anak harus selalu berkemauan keras, terus mengejar pengetahuan dan punya sikap yakin selalu ada jalan. Membaca buku-buku tentang tokoh-tokoh menginspirasi kita untuk menjadi seperti mereka dalam mewujudkan cita-cita.

Hingga menjelang petang, anak-anak masih bersemangat mengikuti kegiatan, terutama workshop menggambar. Mereka menunjukkan partisipasi aktifnya dengan bertanya dan mengikuti arahan dari sang pemateri. Melihat keceriaan dan semangat mereka, membuat rasa lelah dan penat karena menempuh perjalanan berjam-jam lamanya menjadi hilang seketika.

Perjalanan menuju Cijulang memang memerlukan waktu tempuh yang lebih lama karena kondisi jalan dari Parigi ke Cijulang rusak parah. Bis dipaksa berjalan pelan-pelan berkilo-kilo meter jauhnya karena jalan yang penuh dengan lubang yang menganga. Informasi menyebutkan bahwa kerusakan itu karena sering dilalui truk pengangkut pasir besi. Waktu tempuh menuju lokasi menjadi jauh lebih lama dari waktu tempuh normal. Bis pun seperti terombang-ambing setiap melewati lubang-lubang besar itu.

Keesokan harinya, dengan menempuh jalan yang sama rusaknya, saya dan rombongan menuju ke Green Canyon untuk melakukan body rafting. Untuk mencapai lokasi permulaan rafting, oleh jasa penyedia panduan rafting kami dibawa dengan 2 mobil bak terbuka. Untuk sampai di sungai kami harus menuruni jalan setapak yang curam dan berbatu. Berbeda dengan para wisatawan yang hanya ingin menikmati Green Canyon, mereka menuju obyek dengan jasa perahu.

Body rafting pun dimulai ketika kami sampai di Sungai Cijulang yang berair berwarna hijau tosca itu. Sepanjang kami menyusuri arus tenang dan arus deras Sungai Cijulang itu, saya dibuat kagum dengan keindahan alamnya. Sungai dengan tebing-tebing batu tinggi di kanan-kirinya, ada stalaktit dan stalakmit dengan tetesan air tanah yang menghiasinya, rerimbunan pohon di atas tebing. Amazingly beautiful.

Betapa Indonesia memiliki banyak karunia tempat-tempat indah, yang sayangnya kerap kurang dalam pemanfaatannya. Saat kami beristirahat seusai rafting, salah satu pemandu bercerita bahwa dulunya para wisatawan sampai harus antri panjang untuk bisa menikmati pesona Green Canyon. Namun rusaknya jalan yang berakibat pada lamanya waktu tempuh, membuat fenomena seperti itu tidak lagi bisa ditemui.

Rusaknya jalan karena dilalui truk-truk pengangkut pasir beusi bertonase berat ini sudah berlangsung hampir satu tahun. Semakin hari, jalan semakin rusak karena tidak ada upaya perbaikan. Hal yang sangat disayangkan karena di sekitar obyek wisata Green Canyon ini juga terdapat obyek wisata lain yakni Batu Karas. Rusaknya jalan ini tidak hanya berakibat langsung pada turunnya jumlah pengunjung wisata tetapi juga berpengaruh pada geliat kegiatan perekonomian lainnya.

Saya berharap suatu waktu nanti bisa datang lagi menikmati keindahan Green Canyon dan obyek wisata lainnya dengan kondisi prasarana dan sarana, khususnya akses jalan yang lebih baik. Tentunya peran pemerintah daerah dan masyarakat setempat layak ditunggu keaktifannya.


TAGS


-

Author

Follow Me