Peran Masyarakat dalam Solusi Sampah DKI

22 Feb 2013

Hari ke hari produksi sampah DKI baik dari sektor industri maupun rumahtangga terus bertambah dengan signifikan. Terutama sampah rumahtangga yang meningkat seiring bertambahnya penduduk yang berdatangan setiap waktu. Dan bermukim secara tetap atau sementara.

Peningkatan produksi sampah tersebut tak bisa hanya mengandalkan pengangkutan ke Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Bantar Gebang saja. Karena saking banyaknya dan menumpuknya sampah DKI, membuat pengangkutan semakin terbatas dan menimbulkan jeda waktu yang agak menghambat untuk sampai terangkut tuntas.

Solusi untuk menangani sampah Kota Jakarta perlu kerjasama seluruh pihak. Termasuk masyarakat setempat di dalamnya. Masyarakat dapat berperan secara langsung dalam penanganan sampah mulai dari rumahnya.

Setiap rumah selayaknya mempunyai dua tong sampah untuk sampah organik dan anorganik. Pemilahan sampah bisa dari rumah. Dan setiap RT, RW atau kelurahan ada baiknya mempunyai TPS sementara dengan membuat bak-bak sampah di satu lokasi yang khusus. Hal ini di maksudkan untuk pengelolaan sampah masyarakat sekitar sebelum diangkut ke TPS akhir di Bantargebang.

Sampah organik dapat diolah menjadi kompos secara bersama. Sedangkan untuk sampah anorganik bisa dilakukan pengelolaan secara swadaya di lingkungan masing-masing dengan pendekatan bisnis. Misalnya membuat krajinan berbahan sampah daur ulang.

Menangani sampah untuk menjadi satu nilai ekonomis, tentu saja memerlukan modal juga. Maka peran pemerintah sangat diharapkan. Menurut penelitian BPPT, sampah terbesar yang dihasilkan Kota jakarta adalah berasal dari rumahtangga. Maka potensi penghasilan dari sampah masyarakat harus benar-benar dijalankan sebagai salahsatu solusi.

DKI mempunyai anggaran untuk masalah sampah sebesar 1.3 Triliun. Dan jika sampah masyarakat bisa di kelola secara swadaya, akan mendapatkan insentif sebesar 57% dari dana tersebut.

Jika program swadaya masyarakat dalam pengelolaan sampah rumahtangga dapat dijalankan, modal untuk pendekatan bisnis serta pengolahan sampah menjadi sesuatu yang bernilai ekonomis bisa di peroleh dari dana yang 57% tadi. Modal tersebut bisa untuk membeli keperluan berupa perangkat untuk mengolah kompos, peralatan untuk pengolahan sampah daur ulang dan penyediaan tempat.

Dengan demikian, masalah sampah Kota Jakarta tak harus lama menumpuk untuk menunggu di angkut ke TPS akhir. Dengan cepat, lingkungan kota akan menjadi bersih dan masyarakatnya sejahtera karena punya pemasukan tambahan dari hasil pengelolaan sampah rumahnya.


TAGS sampah DKI swadaya masyarakat


-

Author

Follow Me