BENARKAH JAKARTA AMAN DARI GEMPA?

10 Nov 2011

KEMUNGKINAN JAKARTA MENJADI episentrum atau pusat gempa memang kecil. Walau bagaimanapun, Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) ini tergolong rawan
gempa. Soalnya, kampung besar yang nama kunonya Betawi ini dikepung
sepuluh daerah potensi gempa: Subduksi Sumatera, Subduksi Jawa, Sesar Sunda, Sesar Semangko, Sesar Sukabumi, Sesar Baribis, Sesar Lembang, Sesar Pati, Sesar Bumi Ayu,dan Sesar Yogya atau Opak. Entahlah bila Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda berulah.

Antisipasi apa yang sudah dilakukan? Apakah rumah Anda tergolong bangunan tahan gempa? Apakah gedung bertingkat tempat Anda berkantor sudah aman? Apakah Tim Penasehat Arsitektur Kota Dinas Pengawasan dan Penertiban Bangunan (TPAK P2B) DKI Jakarta sudah melakukan tugasnya memberikan jaminan gedung bertingkat delapan ke atas sudah
direncanakan dan dibangun tahan gempa? Apakah Tim Revisi Peta Gempa Nasional (RPGN) sudah merampungkan tugasnya melakukan mikrozonasi gempa untuk Kota Jakarta sebagai panduan mitigasi dan antisipasi
gempa?

Padahal, menurut Sistem Reduksi Risiko Multi-Bencana (SiRRMa) Badan Pengajian dan Penerapan Tekonologi (BPPT), Jakarta dan sekitarnya masih merupakan daerah yang sangat rawan bencana di muka bumi ini, baik dilihat potensi bencana sosial maupun dari potensi bencana alam lain, khususnya bencana kebumian. Kalau dibiarkan berlangsung seperti apa adanya sekarang, Jakarta akan menyerupai Calcutta, Bangkok, dan Mexico City: Calcutta dari segi bencana sosial menuju kegalauan; Bangkok dari segi penurunan permukaan bumi; Mexico City dari segi bencana gempa dan penurunan muka bumi. Khusus untuk Jakarta, faktor turun-naik muka laut, variasi iklim, dan siklus tektonik sangat

dominan untuk jangka panjang.

Dari segi kegempaan, semua gempa yang terasa di DKI hingga kini berasal dari daerah sumber yang terletak di luar wilayahnya. Dari penyebaran sesar di Selat Sunda dan sekitarnya dan dari data isoseis ada gempa masa lampau, sudah dapat dibuat peta isoseis sederhana. Untuk gambaran umum, khususnya untuk DKI, peta tersebut belum cukup. Skalanya masih terlalu kecil. Untuk kebijakan yang diikuti dengan

building codes, DKI butuh peta isoseis, peta akselerasi maksimum

dengan skala 1:10.000. Yang paling dibutuhkan DKI ialah zonasi mikro pada skala 1:10.000.

Dalam peta itu, perlu disadari bahwa DKI berdiri di atas tumpukan sedimen kuarter dari berbagai macam jenis, berbagai ketebalan, dengan berbagai penyebaran lateral. Pada tempat tertentu, sedimen tersebut mencapai ketebalan hingga 600 meter atau lebih. Itu berarti ada akselerasi kecepatan rambat gelombang seismik. Lagi pula, dari beberapa penampang geologi permukaan, terlihat penyebaran lapisan pasir. Gejala tersebut dapat menyebabkan proses liquefaction. Ini sangat berbahaya bagi gedung bertingkat di DKI.

Untuk membuat building codes dan kebijakan dalam mitigasi bencana gempa, zonasi mikro sangat mendesak. Ini harus dilakukan sekarang. Sambil menunggu informasi ilmiah yang benar-benar solid melandasi kebijakan, contingency planning sudah harus dapat disusun, yang secara berangsur diperbaiki.

Selain dari bencana gempa, DKI juga dibayangi oleh bencana jangka panjang: 1. Naiknya muka air laut yang akan menimbulkan kerugian dan kerusakan pada prasarana di wilayah pesisir. 2. Munculnya land- subsidence karena: penurunan alami; beratnya gedung besar di atas sedimen yang belum terkonsolidasikan; dan pemompaan air tanah tak terkontrol. Gejala kerusakan tersebut akan sudah dapat terlihat secara jelas 20-30 tahun lagi. Mungkin bukan saja gedung, bahkan bagian dari DKI secara perlahan-lahan mengalami penurunan. Ini akan sangat fatal.

Untuk mitigasi bencana land-subsidence dan naiknya muka laut, diperlukan studi intensif yang harus melahirkan rekomendasi praktis untuk pengamanan prasarana. Konklusinya: pemerintah, dalam hal ini DKI, perlu mensponsori dua kegiatan: melengkapi informasi ilmiah untuk menyusun kebijakan mitigasi bencana bumi dan studi mengenai dinamika cekungan secara mendetail dengan pendekatan baru guna mengantisipasikan daerah yang akan mengalami penurunan, dan daerah yang harus diperkuat/dilindungi terhadap naiknya muka laut.


TAGS Jakarta WANDA Gubernur DKI gempa gempa bumi wanda hamidah Bencana Alam


-

Author

Follow Me