RAMADHAN dan IDHUL FITRI DI TENGAH KEPRIHATINAN AKAN KONDISI BANGSA

26 Aug 2011

Siapakah orang kafir itu? Kata Al Quran dalam Surah Al A’raf (7): 51,Orang kafir adalah orang yang memegang agamanya dengan senda guraudan main-main. Oleh karena itu Allah mengatakan, “Karena itu, sekarang Aku lupakanmereka seperti mereka telah melupakan Aku”. Secara lahiriah seseorang bisa bertauhid sementara ia kafir secara batiniah. Sikap, perilaku yg mencerminkan hati yang sudah kehilangannurani sehingga menindas yang lemah, merusak ekologi dan memperdaya sesama, serta menghalalkan segala cara dalam mencapai tujuan dunianya. Begitu juga dengan sikap lain di mulut lain di hati, pencitraan seolah-olah peduli, seolah-olah beragama, seolah-olah benci korupsi; itu semuanya sikap bersenda gurau memainkan agamanya.

Apa yang terjadi saat ini, sejumlah peristiwa yang membuat kita prihatin akan kondisi bangsa ini, seperti krisis multidimensi yang menimpa partai politik serta korupsi yang melanda hampir semua elit politik di daerah hingga ke pusat disertai masih tingginya tingkat pengangguran dan kemiskinan, sampai kasus Nazarudin yang menghebohkan. Merupakan perilaku orang kafir, yaitu mereka yang memegang agamanya dengan senda gurau dan main-main. Dalam konteks Ramadhan, apabila umat Islam menjalankan ibadah puasanya dengan kaffah sesuai dengan firman Allah : “Wahai orang-orang yang beriman ! Diwajibkan kepada kamu puasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang yang sebelum kamu, supaya kamu menjadi orang-orang yang bertaqwa.” (S.al-Baqarah:183), maka kita dapat menjadi orang bertaqwa. Untuk mencapai nilai Taqwa, kita wajib melalui ujian kesabaran, melatih diri kita menahan hawa nafsu dari makan dan minum, menahan diri dari perkataan dan perbuatan yang sia-sia termasuk pencitraan, berkata seolah-olah, melakukan berbagai kejahatan kasat mata dan dibawah meja. Rasullah s.a.w.bersabda: “Bukanlah puasa itu hanya sekedar menghentikan makan dan minum tetapi puasa itu ialah menghentikan omong-omong kosong dan kata-kata kotor.” (H.R.Ibnu Khuzaimah).

Kewajiban lain yang melatih kepekaan nurani umat adalah berbagi dengan sesama dalam bentuk ibadah zakat. Dalam bukunya Tauhid Sosial, Amien Rais bercerita tentang pemikirannyayang sempat ia ‘kampanyekan’ di internal organisasi Muhammadiyah yaitu mengenai Zakat Profesi, dimana profesi-profesi yg lebih mudah dalam menghasilkan uang (dalam jumlah yg signifikan) seharusnya membayar zakat (wajib) dalam jumlah persentase lebih dari 2,5% bahkan sampai10-20%. Ia terinspirasi ketika pada suatu saat menerima uang ribuan dollar setelah memberi kuliah di sebuah Universitas luar negeri sementara ia teringat di Indonesia seorang petani yg bekerja sebulan penuh dengan cucuran keringat hanya menghasilkan uang satu juta rupiah.

Semoga ibadah Ramadhan tahun ini dapat kita tutup dengan nyaris sempurna, dapat meraih ketaqwaan, memasuki hari Raya Idul Fitri dengan jiwa dan semangat baru untuk menanggalkan perilaku main-main dan bersenda gurau dalam beragama. Sehingga bangsa ini dapat bangkit menggapai cita-cita kemerdekaan yang digariskan para pendiri bangsa, membangun masyarakat yang berkeadilan social gemah ripah loh jinawi. Mohon maaf lahir bathin, selamat hari raya Idul Fitri 1432 H.


TAGS


-

Author

Follow Me