Playing God ….
18 July 2008 by wandahamidah
Pernahkah anda melihat, bertemu atau berhubungan dengan seseorang yang merasa “Tuhan” yang membuat hidup anda hancur lebur, menyengsarakan, menjerumuskan anda kejurang yang paling dalam, melakukan segala cara untuk membuat anda menderita… dan tidak cuma itu, ia juga bisa mempengaruhi orang lain untuk membenci anda… kalau anda tidak melakukan ‘aturan main’ yang dikehendakinya , sebaliknya jika anda mengikuti ‘aturan main’nya tersebut seakan-akan ia adalah pahlawan , orang yang paling berjasa dalam hidup anda. Hidup anda “aman”, anda merasa tersandera, dengan orang tersebut sangat menikmati perannya sebagai “Tuhan” merasa hidup anda ada ditangannya , dan bisa setiap saat dibolak-balik jika anda tidak mengikuti aturan mainnya.
Sound familiar….? They’re around us ‘bullying’ hampir mendekati hal ini, tetapi orang ini lebih kejam. Biasanya orang ini adalah:
1. Orang Kaya atau orang yang pernah kaya (post rich syndrome)
orang yang merasa kaya, orang yang merasa bahwa uang bisa membeli segalanya, dengan uang segalanya beres dan selesai, dalam kamus mereka tidak ada manusia yang tidak bisa dibelinya.
2. Orang yang pernah punya kekuasaan (powerfull) orang yang pernah punya kekuasaan (post power syndrome) masih merasa berkuasa.
-Pejabat/mantan pejabat
-Pengusaha (pejabat saja bisa dipanggilnya…. sudah menjadi rahasia umum ada pengusaha ‘kuayaa sekali’ yang mempekerjakan pejabat aktif/ tidak aktif, berkantor digedungnya, bahkan setiap saat dengan bercelana pendek pejabat-pejabat itu datang membungkuk-bungkuk kepadanya or lihat kasus Syamsul Nursalim / Artalita.
-Bos/atasan anda
Pemimpin redaksi, sudah nonton ‘The Devil wear Prada’…?
so, u see how Meryl Streep playing God…or si Vanessa Williams in ‘Ugly Betty”, u know what is not only in the movie… lihatlah para disainer memohon mereka agar karyanya bisa tampil dimajalah tersebut, para model, make up artis, penulis lepas, “socialita” memelas, memohon agar namanya/wajahnya tampil dimedia, untung-untung profilenya bisa dimuat sebagai superman atau superwoman
orang-orang yang gila publikasi dan menganggap itu satu-satunya cara mempertahankan eksistensi mereka.
-sutradara/talent casting, dan semacamnya. u know how many people willing to die, give up their everything including their body to be in entertaiment world. Teman saya… yang bekerja di stasiun TV swasta, he told me sometimes he’s playing God karena banyaknya artis baru/lama yang willing to kiss his ass, agar video klip-klip mereka ditayangkan di TV tersebut.
-Ketua partai
aku melihat how powerfull they are, keputusan-keputusannya menyangkut hajat hidup orang banyak, dia bisa memutuskan siapa yang akan menjadi kepala daerah, menteri, anggota dewan, no urut caleg, dll…..Hmmmm….
-Majikan
jangan-jangan kita yang setiap hari “playing God” dengan pembantu kita, kita perlakukan mereka tidak sebagai manusia, dengan gaji yang cuma sedikit kita merasa ‘memiliki’ mereka, betapa banyak penyiksaan fisik yang dilakukan, dan tidak kalah hebat penyiksaan psikis yang kita lakukan, berteriak memaki terhadap mereka (termasuk mengurung)
dan banyak lagi profesi lain yang memungkinkan kita ‘playing God’, anda pasti dalam hati sudah ingin berteriak
Belum bicara profesi Kepala Sekolah, Guru, Dosen, sebetulnya ada dalam setiap profesi, it’s in you… cuma beberapa profesi tertentu mereka leluasa.
Ada satu lagi yang ingin aku bahas, orang-orang yang tidak termasuk keriteria diatas tetapi karena statusnya, seperti….
- istri pejabat/anak pejabat,dll
* si istri pejabat dilingkungan istana menghubungi salah satu perusahaan X agar memecat si A karena mengganggu rumah tangganya, kenyataannya bahwa suaminyalah yang sering menggangu si A.
* seorang anak pejabat mengikuti suatu kompetisi tertentu dan dimenangkan atau banyaknya anak jaksa yang masuk kejaksaan atau anak hakim masuk kehakiman, anak diplomat masuk deplu dan masih banyak lagi, semata-mata karena “titipan” dan bukan kemampuan mereka, bayangkan nasib orang-orang yang seharusnya berhak berada ditempat-tempat tersebut.
*mertua/kakak ipar
mertua anda kaya raya, cukup terpandang wanita karir yang hebat dan anda ‘nothing’ just another house wife, anda seperti kerbau dicocok hidung, harus mengikuti kegiatan-kegiatan formal/informal mereka, bagus-bagus kalau anda nurut, anda akan disumbang sekedarnya. Kehidupan materi dan prestasi anda jangan sampai melebihi mereka…. anada bisa diterkam. stay low profile in front of them…. if you guys in one event together DON’T TRY: lebih cantik dari mereka (bilang aja dandan sendiri dirumah), lebih bling-bling dari mereka(bilang aja perhiasan minjam), memakai brand new shoes/bags yang lebih up date dari mereka(just say u rent it), kalau anda lebih langsing (bilang aja lagi stress!), kalau anda masukin anak-anak anda kesekolah yang lebih bagus/ mahal dari anak-anak kakak ipar anda, bilang aja dapat beasiswa….hehe… kalau anda dapat rezeki keluar negeri bilang aja karena menang undian… Rumah tangga anda lebih bahagia, puar-pura aja merasa bahwa anda belajar dari rumah tangga mereka yang ‘harmonis’, belaga enggak tau dan tutup mata atas kebusukan-kebusukan rumah tangga mereka (no nothing, see nothing, hear nothing, nothing…nothing…nothing…) Do say thank you very much if they gave u someting, yang menurut anda sudah tidak up date alias kadaluarsa, walaupun anda tau barang-barang yang diberikan kepada anda & anak-anak anda adalah barang sisa …. setelah tidak ada orang lain yang mau mengambil barang-barang tersebut.
1. The Tricks is buat orang-orang ini merasa bahwa kamu didalam kontrol mereka(walau sebenarnya tidak) buat mereka merasa bahwa kamu sudah ‘diamankan’
2. Take it or leave it!
Kalau kamu sudah enggak tahan lagi, leave it! Get out from that hell ! Stand up for your right… sesungguhnya tempat kita bergantung, memohon, memelas, bersujud hanyalah kepada Allah Yang Satu, Alllah SWT…. Sesungguhnya Allah mengubah nasib seseorang seperti membalikkan telapak tangan (dijanjikan didalam QS) yakinlah bahwa Allah SWT mendengarkan dan mengabulkan doa-doa orang yang dizhalimi. Pasrah, Tawakal dan tetap berikhtiarlah kepada-Nya … never give up on Allah.
3. Last but not least….
jangan ada dendam terhadap mereka, jadikan energy negatif mereka motivasi untuk anda, untuk membuktikan they are nothing to you, You are somebody… buktikan bahwa anda bisa berprestasi dalam sekolah, karir. Bahagia dalam kehidupan…. (jangan mengukur kebahagian dalam materi, kebanyakan sesuatu yang terlihat adalah semu, dan sebaliknya sesuatu yang tidak terlihat dasyat sekali) aku boleh bilang tersebut adalah orang-orang yang ‘unhappy inside’
u know what…. kalau kita selalu merasa bersyukur atas apa yang kita capai, raih, dapatkan, segala yang sudah ada…. Life is much easier…. keep focus, keep doing your best. I can say, kunci hidup itu adalah sabar, syukur, tawakal, dan ikhtiar.
Sebaliknya bagi mereka yang merasa kurang, iri dengan kehidupan orang lain selalu melihat keatas, they will never ever be happy until the end of their life…..
Sebagai manusia, saya suka merefleksi diri, kok kadang-kadang kita jauh merasa lebih takut kepada sesama manusia daripada Pencipta kita sendiri, kita lebih menggantungkan nasib kita kepada orang lain dari pada kepada-Nya, sehingga kita melakukan hal-hal yang justru menjauhkan kita dari Nya. Kadang-kadang saya maluuu sekali… menurut saya ini adalah musyrik kecil, karena kita lebih mempercayakan hidup kita kepada orang lain, dari pada-Nya. Padahal kalau kita sudah mendapatkan ridhoNya, apapun doa kita, niat baik kita…. Insya Allah pasti dikabulkan.
Love WH
Sifat sifat itu ada pada tiap manusia, hanya yang kuat iman dan tawakal dan takut sama sang pencipta lah obat manjur untuk bisa melunturkan sifat sifat greedy.. iri.. dengki.. dan sok bossy.. lagi lagi banyaklah ber istighfar…
aaaamiiiinn..
hmm.. tulisan yang sangat manusiawi untuk seorang seleb..
mengedepankan pendapat pribadi dalam realitas kehidupan..
salam.
Bagus tulisannya mbak Wanda, cuma saya sangat tertarik dengan kalimat ini :
memang seperti ini ya posisi ketua partai di Indonesia?? kalau begitu ketua partai juga harus bertanggung jawab secara moral jika anggota dewannya menyalahi aturan, terutama untuk sebagian anggota dewan terhormat yang akhir2 ini bertindak sangat memalukan.
keren nih tulisannya.
Hhm, cerita kamu seram2, berat2 dan ini mah berlaku dimana2 di dunia ini dan sejak manusia kenal harta tahta wanita. Bukan di Indonesia saja. Tergantung hati nurani kita masing2 termasuk wakil2 rakyat DPR dan Kejaksaan lagi disorot.
Tinggal budaya malu aja kita tunggu, mundur sukarela dari jabatannya.
Keep writing in your blog, you are very talented
Setuju. Pembahasan yang oke, mba’Wanda.
very touchy… i like it.. I’m with you mba.. kunci hidup itu memang sabar, syukur, tawakal, dan ikhtiar…
God bless u…
Setuju mba, seandainya saya sdh “kuat” saya ingin sekali bisa hidup bahagia kya yg mba bilang. Hidup cuma sekali tho?
Sebelumnya, Maaf ya bu… saya yang belia ini nitip comment. Saya gemar membaca postingan ibu. Tapi baru kali ini saya sempat comment.
Kurang dan lebihnya saya mohon maaf. dan terimakasih.
Saya rasa semua itu di dasari oleh Egois dan Nafsu (OverAmbition).
Sangat sulit sekali sekarang ini kita temukan kejujuran,solidaritas, dan semangat Idealis Nasionalis.
Salah paham terjadi karena dua sisi, bukan satu sisi. terlepas baik dan benar, belajar dan belajar untuk menghargai orang lain, tergolong sangat langka.
Tidak pernah menghargai orang lain, itu buruk…
Menghargai, itu baik. Namun, terkadang di injak…
Terkadang, orang baik jadi jahat. Lantaran harga dirinya merasa terinjak-injak.
Sayangnya, orang jahat tiada jera. Menilik Perekonomian dan kekacauan lain semakin merajalela.
Kebohongan demi kebohongan semakin terkuak.
Menandakan kebobrokan mental di negeri ini.
Yang salah tidak mau mengakui dan bertanggung jawab.
dengan money politik dan powernya, membodohi masyarakat.
Yang Paham justeru membeberkan Aib yang lain.
Sabar nan Ikhlas, tuk mengembalikan semua kepada Allah.
Tapi, “Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, jika mereka tidak mau berusaha”
Lantas usaha macam apa yang mereka lakukan?
kejujuran? Solidaritas? Menghargai?
Salam hangat Ibu Wandahamidah.
* Happy Bloging
[...] Inspirate by : Ibu Wanda Hamidah [...]
Dear Ibu Wanda Hamidah,
Read your posting, very touched in my heart.
Beneran nie Wanda Hamidah yg artis itu?? seorang artis dan public figure ini lyg benar seperti ini. Harus pintar.
Beneran mba hidup itu kejam yaaa … klo mau gak hidup kejam ya adanya cuma di Surga .. Hidup Setelah Mati.
Seiriing waktu berjalan ya .. memang kekejaman semakin merajalela, yg penting balik lagi ke individu itu sendiri.
Keep Fight. dare to the Death.
Salam Untuk keluarga Mba Wanda Hamidah … Terus posting tulisannya ya ditunggu setiap hari. Thank you
great posting, aku sendiri terkadang ngga abis pikir sama those people yg “playing God” dan kadang bertanya dalam hati aren’t they think that at the end of the day all of us will die? tapi mba Wanda, walopun demikian orang-orang seperti itu rasanya bakal selalu ada sepanjang jaman….
Dari bbrp blog artis yg pernah gw kunjungi, inilah blog artis terpintar menurut gw.
wah….wah……posting puuuuuaaaanjjaaang banget ni…cocok jadi penulis skrip nih..
Dear Wanda….
Seneng banget baca tulisan Wanda yang satu ini…..
mengingatkan bahwa kejadian seperti ini bisa saja terjadi dimana saja, tidak saja dalam politik tapi juga dalam kehidupan sehari hari…..
thanks ya Wan…..
OMG Ibu Wanda.. Your writing is so smart and witty, i must say i’m impressed. You seemed quiet in the real life, but it turned out you got so much to say inside that you just blurted out here. I especially LOVE this part:
“if you guys in one event together DON’T TRY: lebih cantik dari mereka (bilang aja dandan sendiri dirumah), lebih bling-bling dari mereka(bilang aja perhiasan minjam), memakai brand new shoes/bags yang lebih up date dari mereka(just say u rent it), kalau anda lebih langsing (bilang aja lagi stress!), kalau anda masukin anak-anak anda kesekolah yang lebih bagus/ mahal dari anak-anak kakak ipar anda, bilang aja dapat beasiswa….hehe… kalau anda dapat rezeki keluar negeri bilang aja karena menang undian…”
So true.
Uraian kiriteria orang yang termasuk Playing God mencerahkan. Khusus untuk kriteria terakhir setelah kalimat:
Kelihatannya pembahasannya lebih tajam, bahkan disertai tips and tricks pula…
Banyak yah disekitar Wanda?
Salam
[...] Ibu Wandahamidah [...]
“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.” [Al A'raaf : 54]
Dijadikan indah pada manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik. (QS. Ali ‘Imran, 3: 14)
TJ.
Assalamu’alaikum wrwb.
Wanda, sejak di kampus rawasari saya selau memperhatikan kamu, walau hanya berani melihat dari jauh, tidak pernah berani menyapa kamu yang terlanjur telah berlabel artis..
Membaca tulisan mu, saya bersyukur bahwa label adalah sekedar label yang notabene lebel itu juga bukan kamu yang nempelin..ternyata kamu, seorang wanda hamidah artis yang punya wawasan (dari dulu gue emang punya perkiraan lu tuh emang smart)
Semoga kita semua selalu diberi petunjuk oleh Allah SWT dalam menjalankan kehidupan ini agar senantiasa jangan pernah untuk mencoba untuk “Playing God” kalaupun terlanjur telah melakukannya smoga kita diberi kekuatan untuk kembali ingat bahwa kita adalah manusia biasa yang butuh pertolongan Allah, butuh rahmat Allah.
Wallahu’alam.
Wassalamu’alaikum wrwb.
AHMAD FARIHIN
Paparan yang memiliki kesamaan tematik dengan Cruell de vill, hanya perbedaannya yang ini lebih terasa sarkastiknya.
Tajam namun tidak memerahkan muka..
Keep the faith !
I had a short story with a title=“A FISH CALLED WANDA”
enjoy it…
“A FISH CALLED WANDA”
Hobinya memancing ikan. Bahkan tidak hanya sekedar hobi tapi sudah menjadi dunianya. Tak bakal ia mau lewatkan barang seharipun untuk tidak memancing. Seluruh tubuhnya akan merasakan sakit yang tak bisa terdeteksi secara fisik bila ia tak pergi memancing. Kalau sudah begitu kejadiannya maka seluruh obat di apotek takkan bisa menyembuhkannya, kecuali; pergi memancing. Sebuah dunia yang sudah melekat dalam dirinya.
Entah sejak kapan ia mulai menggemari hal itu, tak ada yang tahu pasti. Bahkan ia pun tidak. Almarhum ayahnya pun tak suka memancing, begitu juga dengan kakak-kakaknya. Bagi mereka, memancing itu pekerjaan yang tak ada gunanya dan menghabiskan waktu tidak dengan melakukan hal yang produktif. Kalau dilihat dari sudut ini berarti hobi memancingnya bukanlah bakat genetik.
Oiya, hampir aku lupa. Tokoh utama yang aku ceritakan ini adalah seorang pemancing ikan yang bernama Boy. Namanya serupa denganku, tapi ia bukan diriku. Karena untukku, memancing itu melelahkan tanpa melakukan apa-apa. Dan itu menyiksa. Tapi tidak demikian dengan si Boy pemancing ini, baginya memancing itu melatih mental dan menguji strategi. Seperti catur, namun bidak-bidaknya adalah diri si pemancing itu sendiri. Bahkan, dalam kalimat filosofis, Tuhan itu Maha Pemancing sedangkan manusia adalah umpan sekaligus ikan itu sendiri. Kalau sudah berbicara seperti itu biasanya aku hanya manggut-manggut mencoba memahami walau aku sendiri tak pernah mengerti makna kata-katanya.
Ngomong-ngomong soal kata-kata, si Boy ini memiliki gudang kata yang tak terbatas. Cobalah sekali waktu kau temani ia memancing, maka tak kan terasa waktu yang ada karena sepanjang waktu mulutnya akan terus meluncurkan kalimat apa saja untuk menjadi bahan pembicaraan. Ia menguasai topik apapun, dari yang remeh sampai yang aneh, dari yang lokal sampai yang global. Semuanya akan ia kupas habis-habisan sampai kita merasa topik itu sudah tuntas dan ia akan melanjutkan dengan topik yang baru.
Dulu ia pernah menikahi seorang gadis yang terpikat dengan kata-katanya. Tapi baru tiga bulan mereka sudah bercerai, karena istrinya merasa ia dimadu dan istri sejatinya adalah memancing. Bagi Boy, ini hal yang paling sulit aku mengerti, lebih baik bercerai dengan istri daripada bercerai dengan diri sendiri. Aneh.
Sampai suatu hari aku merasakan hal yang paling aneh dari seluruh keanehannya. Ia berjalan dengan kepala menunduk dan mulut terkatup. Bagiku ini sangat aneh. Ia sedang sedih. Padahal ketika dulu ayahnya meninggalpun ia tidak sedih (itu yang terlihat), atau ketika berceraipun ia tidak sedih karena obat bagi kesedihannya adalah hanya memancing. Tapi kali ini ia benar-benar sedih, sapaanku pun tak dijawabnya. Ia terus melangkah tanpa suara. Benar-benar aneh.
Aku penasaran. Kutanyakan pada teman-teman memancingnya, mereka tak tahu. Tapi ada seorang bocah yang menunjukkan danau tempat Boy biasa memancing kini telah berubah menjadi proyek pertokoan kelas atas. Tapi itu kan cuma sebuah danau, toh ia masih bisa memancing di laut. Namun para nelayan mengabarkan bahwa laut telah tercemar limbah minyak dan radioaktif, akibatnya semua ikan pada mati dan semua nelayan ganti profesi.
Ooooh jadi itulah penyebab kesedihannya, aku tahu sekarang. Akupun segera pergi menyusul Boy ke rumahnya untuk mengusir duka hatinya. Telah terbayangkan olehku untuk mengajaknya mencari lokasi pemancingan dimanapun tempatnya. Karena diamnya ia menghilangkan keseimbangan dunia. Wuah, sepertinya aku sudah jauh terpengaruhi oleh pikiran-pikirannya. Tapi, jujur saja, aku kesepian kalau ia tak bersuara.
Sesampai di rumahnya aku terkejut. Ini lebih aneh dari hal yang paling aneh dari segala keanehan dirinya. Dalam sehari ini aku sudah dikejutkan dua kali olehnya. Aku melihat Boy sedang memancing….di televisi. Ini bukan berarti gambarnya ada di dalam televisi dan sedang memancing, tetapi ia duduk di depan televisi yang bagian atasnya ia lepas dan memasukkan pancingannya ke dalam kotak televisi yang masih menyala. Ini benar-benar sangat aneh.
“Tadi aku coba menghibur diri, dengan menonton televisi. Tapi isinya hanya berita-berita modernisasi yang membuat peradaban mati. Laut tercemar merkuri..ikan-ikan mati..sawah dibeli..proyek jadi tradisi..aku keki. Paras jelita si penyiar yang menyelamatkanku dari sakit hati. Tapi lama kelamaan wajah Wanda, si penyiar itu, meluntur dan berubah menjadi ikan. TV-ku menjadi akuarium dengan ikan-ikan di dalamnya….ya sudah, aku nenancing di sini saja….kau mau ikutan?”
Absurd, sungguh absurd dan tawarannya tak kuhiraukan karena kini di mataku bayangan dirinya pelan-pelan meluntur dan kami tiba-tiba merasa menjadi ikan-ikan di sebuah akuarium yang maha besar.
2001-2003
Bagus isinya, ayo menulis terusss… jangan bosan.